Minggu lalu, Michelle (4 thn) dan Vica (2,5 thn) berlari ketakutan dan langsung memeluk saya. Saya kira mereka takut karena kecoak atau cicak, ternyata… Mereka ketakutan karena melihat adegan pembunuhan berdarah-darah di TV!
Saya jarang sekali nonton TV untuk kesenangan pribadi. Bukan apa-apa, karena anak-anak 24 jam bersama saya, otomatis apa yang saya lihat akan mereka tonton juga. Oleh karena itu saya ikhlaskan TV hanya untuk channel khusus anak-anak melalui TV kabel.
Maka kejadian hari itu membuat saya merasa sedih karena “kecolongan”. Anak-anak masih terlalu kecil untuk diberi pengertian bahwa adegan itu hanyalah bohongan. Mereka belum bisa membedakan antara yang nyata dengan rekayasa.
Menonton film kekerasan di depan anak-anak sama egoisnya dengan merokok di depan mereka. Dan mengajak mereka ke bioskop untuk menonton film dewasa, sama saja dengan mengajak mereka masuk ke smoking room untuk menemani Anda merokok.
Efeknya mungkin tak langsung terlihat, tapi pasti ada akibatnya. Anak-anak memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang mereka lihat tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut baik atau tidak. Hal ini terjadi karena anak-anak memiliki daya pikir kritis yang masih rentan sehingga mudah dipengaruhi oleh isi dan materi tayangan yang ditontonnya.
Padahal, anak-anak berhak mendapatkan hiburan yang sehat dan mendidik terutama yang ditujukan pada peningkatan kesejahteraan sosial, spiritual dan kesusilaannya, sebagaimana diatur dalam pasal 17 Konvensi Hak Anak (Convention on the Right of the Child - CRC). Pemenuhan hak anak tersebut menjadi tanggungjawab bersama antara negara, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, keluarga, orangtua dan anak itu sendiri.
Pada tahun 2006, jumlah menonton TV pada anak usia SD adalah 35-40 jam/minggu atau sekitar 1.800 jam setahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar mereka di sekolah dasar negeri yang hanya sekitar 800 jam/tahun.
Dalam 5 tahun terakhir ini jumlah produksi film Indonesia meningkat rata-rata 43%. Pada tahun 2009 tercatat jumlah produksi film Indonesia sebanyak 78 judul film layar lebar, namun sangat sedikit yang khusus dibuat dan ditujukan untuk anak. Michelle & Vica senang sekali diajak nonton ke bioskop, namun saya dan suami hanya mau mengajak mereka nonton jika ada film khusus untuk anak-anak.
Saya tak bisa menyalahkan negara, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat atas kurangnya tontonan yang layak untuk anak-anak. Namun satu hal yang pasti bisa dan wajib saya lakukan sebagai orangtua adalah memfilter film mana saja yang boleh dilihat atau tidak, dan mendampingi mereka ketika menonton.
Sambil berdoa semoga semakin banyak tontonan yang bukan hanya menghibur tapi juga mendidik bagi anak-anak, sayapun berdoa semoga lingkungan terdekat juga mendukung usaha saya melindungi anak-anak dari dampak buruk tontonan yang tidak diperuntukkan bagi anak-anak, khususnya horor dan kekerasan.
