
Masih tentang alm. Papa
Papa lahir tahun 1952 dari keluarga petani sederhana di Bantul, Yogyakarta. Orangtua papa sama2 nggak fasih berbahasa Indonesia, sementara aku nggak mengerti bahasa Jawa. Jadi selama ini kalau mau ngobrol selalu mentok di kendala bahasa. Kemarin mumpung ada sepupu yg bisa jadi penerjemah, aku langsung ngobrol banyak sama mbah.
Mbah kakung kelahiran 1925, putra dari pemilik masjid di desa piyungan yang dinamakan sesuai nama Papa. Mbah kakung perokok berat dan kalau tidur mendengkur keras sekali. Untung papa nggak pernah merokok dan kalau mendengkur masih tahap wajar. Sudah bbrp tahun terakhir mbah kakung nggak ke sawah tiap hari krn nggak kuat jalan jauh. But overall, mbah kakung masih sehat wal afiat.
Mbah putri kelahiran 1932, masih segar bugar dan setiap hari bertani di sawah yg jaraknya sekitar 2km dari rumah. Berangkat ke sawah setelah subuh, pulang ke rumah setelah dzuhur. Jam 2 pagi anak bungsunya berangkat ke pasar untuk menjual hasil panen hari itu.
Kalau makan nasi nggak habis, aku selalu merasa bersalah karena pasti langsung inget jerih payah mbah menanam padi di sawah. Jadi kalau nggak laper2 banget aku biasanya menghindari makan nasi sblm waktunya.
Papa adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Salah satu adiknya ada yg meninggal saat masih bayi karena sakit. Sejak kecil, papa mengurus adik2nya dgn baik. Kata adik perempuan papa yg berjarak 10thn, papa nggak pernah kelahi atau sok jagoan meski anak pertama. Papa yg mandiin dan menyisir rambutnya tiap hari.
Dulu mereka hidup sangat susah. Meskipun petani padi, makan beras saja susah karena hasil panen dijual untuk biaya sekolah. Perjuangan ke sekolah pun nggak main2, krn harus jalan kaki dengan sendal bahkan kadang nyeker (krn nggak mampu beli sepatu) berkilo2meter jauhnya, menyeberangi sungai tanpa jembatan, melewati sawah dan jalan berbatu. Tapi hasilnya, keenam anak mbah semua bisa lulus sekolah menengah.
Dulu mereka biasa mandi dan mencuci baju di sungai depan rumah. Ada juga sumur di depan rumah yg harus ditimba tiap mau mandi. Baru setelah gempa 2006, rumah mbah yang rata dengan tanah dibangun ulang lengkap dengan kamar mandi yang lebih memadai.
Tahun 70an papa mengadu nasib ke Jakarta, menumpang di rumah saudara. Papa mencoba bekerja apa saja, bahkan pernah menjadi kondektur bus. Ketika berhasil mendapat pekerjaan tetap di restoran Istana Naga, satu persatu adik2 papa ikut ke Jakarta sampai mereka bisa mandiri.
Makanya mama nggak pernah punya atau butuh pembantu, karena adik2 papa selama menumpang selalu ringan tangan membantu pekerjaan rumah tangga. Kalau Lebaran, rumah papa mama yg mungil penuh dengan adik2 papa dan keluarganya :)
Papa mungkin nggak punya banyak harta dunia; uang di dompetnya saja hanya 25rb saat meninggal, uang sejuta yg aku kasih sehari sebelumnya masih utuh disimpan mama. Toh papa meninggal juga nggak bawa harta apa2, hanya selembar kain ikhram, peci dan sorban saja. Tapi papa punya banyak harta di akhirat: amal kebaikan yang ia tebarkan selama hidupnya, dan doa dari keluarga yang sangat mencintainya. Itulah harta yang sesungguhnya.
Ps: ini foto mbah putri beserta cucu dan cicitnya sebelum pulang ke Yogya kemarin :)