August 20192 min read

Kyai Amat Karim Yuswo atau aku memanggilnya Mbah Kakung

Kyai Amat Karim Yuswo atau aku memanggilnya Mbah Kakung. Seorang petani padi di Bantul, Yogyakarta. Beliau punya tujuh anak, dan anak pertamanya adalah papaku 👴

Beberapa tahun belakangan beliau tidak lagi bekerja di sawah, hanya duduk2 di rumah. Sebab ia sudah mulai sakit2an dan pikun. Maklumlah, usianya juga sudah mencapai 94 tahun.

Setelah kuingat2 lagi, ternyata tak begitu banyak yang dapat kuingat dan kuketahui tentang Mbah. Aku tak tau apa makanan kesukaannya, impiannya, hobinya, idolanya, maupun silsilah keluarganya.

Ada tiga penyebab utamanya:

Pertama, kendala bahasa. Beliau tidak bisa bahasa Indonesia, aku tidak bisa bahasa Jawa. Jadi kami selalu butuh penerjemah untuk bisa mengobrol.

Kedua, kendala jarak. Beliau seumur hidupnya tinggal di Bantul Yogyakarta, aku di Jakarta. Hanya sesekali aku berkunjung ke rumah Mbah di Yogya.

Ketiga, kendala rokok. Beliau perokok berat, aku tidak tahan asap rokok. Untuk ngobrol, aku menunggu saat beliau sedang tidak merokok. Dan itu jarang.

Yang kuingat dari cerita papaku, Mbah dan istrinya membesarkan anak2nya dalam kondisi kekurangan. Meski petani padi, tapi jarang makan nasi utuh tanpa dicampur jagung. Sebab berasnya dijual untuk biaya hidup.

Namun beliau berhasil membesarkan anak2nya sehingga bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Jakarta. Meskipun papaku juga tak kalah besar perjuangannya untuk bisa bertahan di ibukota (ini kuceritakan kapan2 aja ya).

Kamis, 15 Agustus 2019 pukul 21:30 lalu, Mbah Kakung berpulang ke Rahmatullah dan dimakamkan keesokan harinya pukul 10:00 di Bintaran. Mama, kakak, adik dan iparku semua ikut mengantarkan. Namun aku tidak bisa hadir karena hari itu juga harus ke Denpasar mendampingi suami.

Semoga Mbah tenang di surga, bertemu dengan papaku. Selamat jalan Mbah, terima kasih atas semua jasamu 🙏🏽

#nutsfamily #nutstory #rip #mbah (at Bantul, Yogyakarta)
https://www.instagram.com/p/B1TtIaqBRGQ/?igshid=3ala2kfh14uf