April 20163 min read

Pulang Kampung

Pulang Kampung

(Klik judul di atas untuk melihat album foto)

Baru pulang dari Malang hari Minggu malam, Senin pagi sudah berangkat lagi ke Yogyakarta, pulang Selasa siang ini. Padahal Senin-Selasa seharusnya ikut seminar yg udah lunas dibayar, dan suara lagi hilang total karena radang tenggorokan & tekanan darah drop 85/55 akibat.. Quote dokternya: “Kamu pasti kurang tidur!” 😅😅😅

Tujuan utama ke Yogyakarta: jenguk mbah kakung yang sedang sakit. Mbah kakung ini ayah dari almarhum papaku, usianya 89 tahun. Beberapa waktu lalu dikabari sepupu, mbah habis jatuh 2x trus linglung, tergolek di tempat tidur. Kabarnya kalau datang harus dekat2 dan sebut namanya supaya mbah tau. 

Dengan suara habis, baterai hp juga habis, bersama sopir mobil yg disewa melalui Tiket.com, berbekal alamat tanpa nomor rumah dan ancer2 jalan dari sepupuku yg di banjarmasin, aku mulai menelusuri jalan menuju Desa Cikal, Piyungan - Bantul. Untung ingatan masih bagus, jadi berhasil tiba di rumahnya yg benar2 di ujung aspal. 

Rumah mbah yang cukup luas masih sangat sederhana seperti dahulu kala. Itupun sudah direnovasi pasca gempa. Masih ada kakus di depan rumah lengkap dengan sumur timba yang sekarang nggak dipakai lagi. Bagian tengah ada kamar2 tidur dan ruang tamu sederhana. Bagian belakang ada dapur kayu penuh dengan kayu bakar dan kandang ternak. 

Saat aku datang, Mbah sedang baring  di tempat tidur. Tubuhnya semakin kurus, tapi kesehatannya sudah lebih membaik. Ketika aku sebut nama, aku tanyakan “Ingat nggak mbah aku anak siapa?” Mbah bilang, “Anak Amin tho?” Ternyata ingatannya sudah pulih :)) 

Selain mbah kakung, ada mbah putri. Usianya 80 tahun. Masih segar bugar sehat walafiat. Tiap pagi masih kerja menggarap sawah yang jauh dari rumah. Tiap malam tidurnya di bale2 tanpa kasur di rumah bagian belakang. Mbah putri ini selalu sumringah & ceria. Tiap hari masih mengenakan pakaian tradisional kain jarik.

Cuma ada satu kendala: bahasa. Mereka tidak lancar berbahasa Indonesia, dan aku tidak lancar berbahasa Jawa :) Untung ada bulik dan paklik beserta keluarganya yang jadi “penerjemah”. Mereka adalah adik2 papa.

Bulik buka toko kelontong di samping masjid yang didirikan oleh mbah buyut, yaitu kakek papaku. Masjid itu diberi nama sesuai nama papaku: (Al) Amin. Pasca gempa tahun 2007 masjid itu dibangun kembali oleh Jamaah Masjid Agung Sunda Kelapa Menteng Jakarta Pusat. 

Paklik beserta istri dan anak2nya tinggal bersama di rumah mbah. Sehari2, paklik dagang di pasar tradisional. Tiap jam 2 pagi ia berangkat ke pasar untuk membawa dagangannya. Saat aku datang sekitar jam 3 sore itu, ia baru pulang membawa beragam sayuran segar yang dibeli dari penyalur. Anaknya membantu memilah dagangan. Sebagian bahan dimasak istrinya dengan kayu bakar untuk dijual di pasar. 

Beginilah potret kehidupan di desa mbahku, orangtua dari papaku. Tempat yang membuat aku ingat untuk selalu berpijak di bumi, meski tanganku telah menggapai langit meraih mimpi. 

Yogyakarta, 5 April 2016 14.00
Nuniek Tirta - menanti pesawat yg delay 3 jam