Bantul itu kampung halaman papaku. Di sana papa dilahirkan dan dibesarkan, sebelum pergi ke Jakarta mengadu nasib. Dalam ingatan, Bantul itu tempat yang asik untuk menghabiskan masa liburan sekolah. Karena sekembalinya dari sana, aku jadi punya cerita yang bagus untuk tugas bercerita mengenai liburan pada pelajaran Bahasa Indonesia. Aku bisa cerita liburan di rumah mbah di desa, pergi ke sawah, memberi makan ternak, naik sepeda keliling kampung, dan tak lupa mandi di sungai persis di depan rumah mbah.
Sekarang Bantul hancur lebur. Rumah mbah nggak ada lagi, rata dengan tanah. Sekampung cuma tersisa satu rumah yang masih berdiri, itupun sudah retak2. Masih untung pada saat kejadian, mbah putri dan mbah kakung serta beberapa sodara sedang ada di rumah papa mama di Jakarta. Setidaknya mereka selamat, toh harta masih bisa dicari lagi. Meski masih ada sodara yang meninggal dan terluka kejatuhan reruntuhan…
Kami mengucapkan turut berduka cita atas ribuan korban meninggal akibat gempa bumi yang menimpa Yogyakarta pada hari Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.50 WIB. Semoga arwah mereka diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan tabah menerima cobaan. Untuk para korban yang terluka, semoga lekas diberi kesembuhan. Dan bagi mereka yang selamat namun kehilangan tempat tinggal, ikhlaskanlah karena harta masih bisa dicari lagi. Bantuan pasti datang, mari berdoa dan berusaha bersama-sama.
God bless you all…