
CLBK – Cinta Lama Bersemi Kembali atau Lost Love Project in English term.
“Selalu ada sesuatu yang tersisa untuk mencintai..” oleh Gabriel Garcia Marquez, Sastrawan Kolombia.
Komunikasi CLBK Tak Bersemi
Oleh Novani Nugrahani dan Yds. Agus Surono
Bertemu karena Allah. Berpisah karena Allah.
Waktu sperti melemparkan seseorang ke masa lalu. Termasuk soal “rasa”. Tanpa sadar cinta masa lalu menjerat. Cegah atau akan menyesal di kemudian hari.
Facebook dan media sosial lainnya, memiliki dua sisi yang berseberangan: menjadi berkah namun sekaligus musibah. Setidaknya bagi Mawar dan Melati (nama samaran). Melalui Facebook, Mawar bertemu teman sekolah dasarya. Saat “kopdar” baru ketahuan bahwa teman SD nya itu naksir dirinya. Berhubung kedua masih bujangan, maka mereka pun melanjutkan ke lembaga perkawinan. Klise.
Ini berkebalikan dengan kisah Melati. Gara – gara Facebook ia kehilangan suami yang bertemu dengan mantan kekasih di masa kuliah. Bagi sang suami, CLBK berarti cinta lama bersemi kembali. Bagi Melati, CLBK berarti cinta lama bikin kisruh (keluarganya).
Ketika era Friendster merebak, cinta lama bersemi kembali melalui ruang maya menyapa Wasis. Tanpa sengaja ia ketemu dengan teman sekolah SMP nya dulu di Kudus, Jawa Tengah (hanya perumpaan). Wasis yang bekerja di Bali dan si teman sekolah yang bekerja di Jakarta, akhirnya mengikat janji.
Jauh sebelum merebaknya media sosial, kita mengenal kisah Pangeran Charles, Pewaris tahta Kerajaan Inggris ini menikai Camilia Parker Bowles pada tahun 2005. Ia meninggalkan Putri Diana yang dinikahinya tahun 1981 dalam suasana sangat agung. Camilia dan Charles bertemu pertama kali tahun 1970. Sempat menjalin hubungan asmara sebelum berpisah dan masing masing menikah dengan orang lain.
6 Kesalahan Pelaku CLBK menurut Nancy Kalish, Ph.D :
1. Merasa perilakunya tidak akan ketahuan oleh pasangan.
2. Merasa dirinya lebih berhak atas si kekasih lama daripada pasangan kekasihnya tersebut.
3. Berpikir kalau si kekasih lama pada akhirnya akan melihat bahwa dirinya lebih baik daripada pasangan kekasih saat ini.
4. Sungguh sungguh percaya bahwa suatu saat dirinya dan sang kekasih lama bisa bersatu lagi.
5. Berpikir kalau ia bisa menjadi hanya sekedar sahabat bagi kekasih lamanya yang ditemuinya kembali.
6. Percaya bahwa ia tidak sedang menyakiti siapa pun karena yakin bahwa mencari kebahagiaan dan cinta bukanlah hal yang salah.
Hormon Tubuh Penyebabnya
Begitulah kekuatan cinta bisa mengubah hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Masalahnya, tak selamanya CLBK berbuah manis yang dialami Mawar dan Wasis. Ada Melati yang sakit hati atau Putri Diana yang merana.
Jauh sebelum istilah CLBK populer, Nancy Kalish, Ph. D, psikolog dan pengajar di California State University di Sacramento, Amerika Serikat, telah melakukan penelitian mengenai fenomena CLBK atau yang disebutnya sebagai “Lost Love Project”.
Proyek penilitan ini mengambil sampel orang – orang yang dalam hidupnya pernah menjalin hubungan lagi dengan mantan kekasih setelah lima tahun atau lebih berpisah. Salah satu kesimpulan nya adalah 62% dari responden penelitian yang bertemu mantan kekasih melalui internet dan situs jejaring pertemanan seperti Facebook, sebenarnya sudah menikah. Baik salah satunya sudah menikah atau keduanya. Jadi ada aroma perselingkuhan dalam ber-CLBK ria.
Apa penyebabnya cinta lama yang terkubur itu langsung berkobar hanya dalam sekali pertemuan? Jawabannya ada pada HORMON – HORMON dalam tubuh kita. Nancy Kalish menyatakan, ketika sepasang remaja jatuh cinta untuk pertama kalinya, tubuh dua sejoli itu melepaskan hormon bernama oxytocin dan vasopressin yang tugasnya membuat kita merasa tertarik secara fisik, merasa dekat dan nyaman dengan orang yang kita sukai tersebut.
Ternyata kedua hormon ini diam – diam juga membentuk “kenangan emosi” di otak kita dan menyimpannya rapat – rapat di suatu tempat bernama otak amygdala.
Nah, ketika pasangan itu bertemu kembali bertahun – tahun setelah mereka berpisah, memori di otak melepaskan kembali ingatan lama, tentang perasaan dekat, nyaman dan emosi menyenangkan lain, berkaitan dengan kekasih lama tersebut. Kenangan indah inilah yang secara fisiologis dapat memicu terjadinya CLBK.
Uniknya, cinta pasca – pertemuan kembali dua orang yang telah lama tak bersua ini ternyata bukan milik pasangan cinta monyet semata. Bisa juga terjadi pada bekas “sahabat masa kecil, bekas teman satu geng saat remaja, atau mungkin mantan tetangga di kampung halaman.”
Proses apa yang terjadi? Selain karena ulah hormon, cinta bisa tumbuh pda orang-orang yang sewaktu kecil berteman dekat karena perasaan dekat dan familiar, serta kesamaan akar dan nilai – nilai yang dianut oleh mereka yang pernah tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sama.
Tak jarang, pasangan yang dulunya bersahabat saat kecil sudah mengenal keluarga pasangannya karena mereka sering berkunjung ke rumah masing – masing untuk bermain bersama.
Penelitian “Lost Love Project” juga menunjukkan bahwa pasangan yang berpeluang lebih besar untuk mengalami CLBK adalah mereka yang kisah cinta “Pertama” – nya mempunyai penyebab putus antara lain karena tidak disetujui orangtua, pindah ke lain kota, atau terlalu muda waktu pertama kali berpacaran.
Jika penyebab perpisahan adalah adanya konflik atau ketidakcocokan, kecil kemungkinan terjadi CLBK.
Andai Sudah Masuk Wilayah Gawat
Psikolog Nurul Adiningtyas menyarankan untuk melihat pada diri pasangan, pasti ada kelebihan yang tidak dimiliki oleh si kekasih lama. Belajarlah untuk realistis.
Jika hubungan berbahaya ini tetap dilanjutkan, pasangan dan anak hendak dikemanakan? “Apa iya kita rela mengobarkan rumah tangga yang telah susah payah dirajut untuk sesuatu dengan masa depan yang tidak jelas?” tuturnya.
Renungkan lagi apakah perbuatan kita dengan kekasih lama itu benar atau salah. Pikirkan dengan matang apakah meninggalkan pasangan dan anak sepadan dengan usaha kita merajut ulang hubungan dengan kekasih lama.
Jika memang terdapat kekecewaan dan ketidakpuasaan dalam berumah tangga, akan lebih baik jika kita mencoba bicara pada pasangan dan memperbaiki apa yang telah susah payah dibangun. Melarikan diri dengan cara mencari kebahagiaan dengan kekasih lama tentu tak bisa menjadi solusi yang baik.
Keterbukaan Kuncinya
Nurul Adiningtyas, M. Psi, psikolog sekaligus staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta menjelaskan tentang latar belakang perselingkuhan atas nama CLBK. Katanya, banyak masalah yang harus kita hadapi ketika kita sudah menikah.
Setelah menikah, biasanya tidak ada lagi yang bisa kita rahasiakan kepada pasangan. Sisi baik maupun buruk, semua diketahui. Masalahnya, ketika kita bertemu mantan pacar, apalagi mantan pacar saat remaja, tak banyak yang bisa kita ingat selain kenangan yang indah indah saja.
Saat remaja belum banyak masalah seperti saat menikah. “Masalah yang dihadapi pun lebih banyak yang kurang essensial sehingga yang kita ingat biasanya hanya kenangan yang bagus – bagus,” ujar psikolog ini.
Kenangan indah dengan mantan kekasih bisa membuat seseorang membandingkan si mantan pacar dengan pasangan saat ini. Bisa jadi si mantan pacar kini terlihat lebih gagah, macho, atau “wah” bila dibandingkan dengan pasangannya saat ini. Silaunya wujud pacar baru ini membuat seseorang lupa akan kebaikan – kebaikan pasangan yang setia mendampinginya.
Pendapat Nancy Kalish pun serupa, “Ketika kita merekonstruksi masa lalu, masa lalu selalu terlihat lebih hijau dibandingkan dengan masa kini,” demikian ditulis Nancy Kalish dalam situs internetnya lostlovers.com.
Agar masa lalu tak berubah menjadi duri dan sembilu, baik Nancy maupun Nurul sepakat untuk mengangkat keter-BUKA-an. Hasil penelitian Nancy Kalish menunjukkan bahwa koresponden penelitian yang sudah menikah mengatakan bahwa mereka biasanya bercerita kepada pasangan mengenai pengalaman intim dengan mantan – mantan pacar terdahulu. Namun mereka tidak menceritakan perasaan mereka saat itu terhadap mantan – mantan pacar tersebut.
Nurul memberi nasihat, sebelum berubah menjadi perselingkuhan lebih baik komunikasikan perasaan yang timbul ketika bertemu dengan mantan kekasih kepada pasangan. Siapa tahu pasangan bisa menerima kalau kita berhubungan lagi dengan mantan kekasih sebatas sebagai teman. “Pada beberapa kasus, pasangan saat ini bahkan bisa berteman dengan mantan kekasih kita itu,” katanya.
Jika kebetulan mantan kekasih menghubungi kita terlebih dulu, tentu tidak sopan jika kita mengacuhkannya. Nancy Kalish berpendapat sebaiknya kita tetap membalasa surat elektronik email atau teleponnya. Tapi sebaliknya balasan yang diberikan sebatas memberi kabar saja, sopan, dan tidak menyinggung kenangan lama. Alangkah baiknya pasangan kita juga tahu ketika kita mulai berhubungan lagi dengan mantan kekasih.
Ada juga sebagian orang yang sengaja mencari mantan kekasih yang sudah terpisah sekian lama, dengan alasan ingin menyelesaikan masalah lama yang masih menggantung. Namun ada kalanya, penyelesaian masalah yang diharapkan malah tak pernah terjadi. Yang terjadi justru kedua mantan kekasih itu tergelincir kembali jatuh cinta.
Menurut Nurul, sebuah hubungan berakhir ketika kedua belah pihak memutuskan untuk berpisah. Jika sesudahnya muncul pertanyaan terkait dengan keputusan berpisah itu, sebaiknya diselesaikan segera sesudah perpisahan itu terjadi. Pertanyaan – pertanyaan menggantung dan tak terjawab usai perpisahan bisa membuat salah satu pasangan yang berpisah terus memendam harapan akan kembalinya si mantan kekasih, meski ia telah menikah dengan orang lain.
Andai semua persoalan cepat selesai, maka tidak akan ada lagi yang namanya “arwah cinta yang gentayangan”. Yang hanya membuat seseorang jadi tambah penasaran.
Batasi Media Sosial (Medsos)
Bagi kalangan yang sudah berumah tangga, sebaiknya penggunaan media sosial dibatasi atau sewajarnya.
“Bahkan kalau bisa enggak usah punya sekalian,” ujar psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) Mira D’Amir.
Mira menilai, perkembangan medsos saat ini lebih banyak mudharat dibandingkan dengan manfaatnya. Berbagai status dan hal yang tidak penting banyak diumbar pengguna medsos ( #jleb ). Hal tersebut berdampak terhadap perkembangan pribadi seseorang.
“Secara psikologis, keberadaan medsos hanya tren. Nanti juga ada titik jenuhnya. Yang paling penting jaga nilai – nilai privasi, jangan seenaknya mem-posting berbagai hal tidak berguna.
Karena dampaknya posting-an kita dibaca dan bisa dimanfaatkan oleh orang lain.
Kiat Mira membatasi medsos bagi yang kecanduan:
1. Jangan kelamaan dan keseringan menggunakan medsos, kecuali untuk kepentingan medesak.
2. Jauhi postingan yang menjurus kepada hal = hal yang pribadi.
3. Selektif menambahkan pertemanan dalam komunitas yang bermanfaat.
[end].
*text #repath from Ana