August 20152 min read

ASI

Membaca tulisan seorang ibu di FB yang berhenti kerja dengan gaji puluhan juta demi ASI, mengingatkan pada perjuangan saya yang juga rela melepas karir di perusahaan minyak supaya bisa menyusui anak kedua 7 tahun yang lalu.

Sebelum memutuskan resign, saya tiap hari ke kantor bawa bayi sampai usianya 6 bulan lebih. Kondisinya, si bayi alergi sufor (yg non-alergic sekalipun).

Kenapa nggak perah aja?

Duh, jangan tanya 1001 usaha saya memerah supaya ada stok ASI. Mau pakai tangan, pakai alat, coba teknik ini itu, makan ina inu, tetep aja perah sejam cuma dapet maksimal 30ml 😭

Setelah memutuskan resign, masih pula menghadapi pertentangan sana sini. “Gak sayang karirnya?” “Gak takut suami selingkuh?” “Perempuan harus bisa cari uang sendiri!”

Pada akhirnya, saya berhasil menyusui si kecil sampai 2 tahun. Tapi bukan berarti, saya bisa ataupun mau menghakimi para ibu yang tidak mau atau tidak mampu melakukannya.

Why? Because every mom has her own battle, and it’s not helping at all to judge them. Do support, do advise, but please, choose your words wisely.

“Do not judge others, and you will not be judged. For you will be treated as you treat others. The standard you use in judging is the standard by which you will be judged.” (Matthew‬ ‭7:1-2‬ ‭NLT‬‬)

Ditulis oleh ibu 2 anak yang pernah gagal dan pernah berhasil memberikan ASI,
Nuniek Tirta Sari
18 Agustus 2015