“Mengapa menjadi seorang ibu adalah sebuah tugas yang sangat mulia? Karena ‘produk’ yang dihasilkan adalah kesehatan jiwa."
Saya tertegun ketika dosen saya yang mengajar mata kuliah Konseling Karir berkata demikian. Kalimat itu menancap di otak saya hingga sekarang.
Ia menambahkan, karir setinggi apapun di perusahaan manapun, “produk” yang dihasilkan tidak akan pernah melampaui nilai sebuah kesehatan jiwa seseorang, yaitu anak yang dididik oleh seorang ibu.
Saya juga tersentak ketika dosen saya yang mengajar mata kuliah Psikologi Perkembangan mengatakan:
"Jika anak di bawah usia 10 tahun bermasalah, yang harus dikonseling adalah orangtuanya, bukan anaknya."
Ini terjadi betul pada salah satu sahabat saya, yang datang ke psikolog dengan keluhan masalah pada anaknya. Di akhir pertemuan pertama itu psikolognya meminta sahabat saya untuk datang bersama suaminya pada pertemuan selanjutnya, disertai ucapan: “Anaknya nggak perlu diajak lagi!”
Dosen lain yang mengajar mata kuliah Skill Konseling memaparkan fakta:
"70% masalah saat ini adalah akibat dari masa kecil. Kejadian-kejadian pada anak usia di bawah 10 tahun itu sangat berperan penting pada masa depan anak tersebut, kepribadian, pola pikir, ketakutan-ketakutan, dan sebagainya. Maka itu dalam konseling, tidak bisa hanya melihat masa sekarang, tapi integrated future-present-past."
Tak salah rasanya jika dosen saya yang lain lagi pada mata kuliah Psikologi Kepribadian menyatakan:
"Figur paling penting dalam hidup manusia adalah Tuhan dan Ibu.”
Dengan menyadari betapa penting dan mulianya tugas sebagai seorang ibu, semoga kita para ibu bisa belajar untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi bagi anak-anak kita. Semoga kita mampu mewarisi nilai2 baik yang diturunkan oleh orangtua kita, dan berani memutus mata rantai keburukan yang mungkin saja diturunkan oleh mereka (jika ada).
Selamat Hari Ibu!

PS: Foto di atas adalah tulisan yang terpampang di depan pintu kamar M&V saat mereka membuat “mother’s day party” hari ini :))