(Sebuah Catatan dan Harapan) Oleh Nuniek Tirta Sari
Tulisan ini melanjutkan posting sebelumnya.
ARTI SEBUAH BLOG: KINI
“Kapan ngeblog lagi?”
Hmm… sounds familiar? Ya, sama. Saya juga sering kebagian pertanyaan itu beberapa tahun terakhir. Rasa2nya mirip pertanyaan “Kapan nikah?” lima tahun lalu. Senang, ternyata masih banyak juga yang memperhatikan. Sekaligus juga beban, karena memang pingin diwujudkan, tapi selalu saja ada banyak alasan.
Alasan pertama: sibuk. Ah, klise sekali. Tuntutan studi & pekerjaan lebih menyita perhatian. Jika dilihat ke belakang, saya mulai mengurangi frekuensi ngeblog sejak kuliah lagi di bidang komunikasi. Ditambah pindah ke perusahaan minyak & gas internasional yang workloadnya lebih tinggi dibanding perusahaan sebelumnya di bidang PR & marketing communications. Otomatis waktu luang banyak berkurang dan hasrat untuk ngeblog perlahan menghilang.
Alasan kedua: berkeluarga. Sejak menikah kemudian memiliki anak, saya tenggelam dalam dunia baru. Saya mengalami euphoria menjadi seorang ibu dengan 2 anak balita yg lucu2. Gemerlap pergaulan di luar sana tidak lagi menarik minat saya. Kehidupan rumah tangga dengan segala dinamikanya sudah membuat saya merasa cukup bahagia dan enggan membagi kebahagiaan itu selain dengan kerabat & sahabat. Terlebih ketika saya memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran dan menjadi ibu rumah tangga. Bukan waktu lebih yang didapat, justru waktu semakin berkurang tersita oleh anak2.
Alasan ketiga: berbisnis. Siapa sangka, sebuah baju yang saya pakai saat hamil mampu membawa saya ke sebuah profesi baru: entrepreneur. Awalnya ada teman & saudara menitip dibelikan baju tersebut. Karena ada lebih, iseng2 saya foto dan tawarkan di milis. Ternyata tanggapannya luar biasa, laku keras. Mereka yang membeli pun minta dicarikan baju model lain, celana hamil, dll. Saya menangkap peluang di sana, karena hingga saat itu belum ada butik online khusus baju hamil & menyusui. Maka dibukalah butik HamilCantik pada 17 Februari 2008, tepat di hari pertama saya cuti melahirkan, dan genap sebulan sebelum saya melahirkan anak kedua. Hingga sekarang usaha yang tanpa modal ini bisa terus berkembang dan telah diliput beberapa media. Aktivitas ngeblog pun saya pindahkan ke sini untuk menyapa para sahabat baru saya.
Alasan keempat: menutup diri & menjaga hati. Sejak berpacaran lalu menikah, saya perlahan menarik diri dari pergaulan dunia maya. Saya tidak lagi tertarik chatting, malas ngeblog, account2 di social media pun diprotect rapat2 hanya untuk orang2 yg saya kenal. Saya merasa telah menemukan orang yang tepat, mengapa harus tetap exist? Dengan alasan tidak ingin membuka peluang untuk yang lain, saya memilih untuk membatasi pergaulan. Saya yang dulu dikenal supel & rajin bergaul, perlahan menjadi orang yang tertutup & malas bersosialisasi. Sebaliknya, pacar yang dahulu pemalu, introvert dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, bermetamorfosa menjadi seorang yang extrovert dan rajin menambah teman baru. Energi dan aura saya seperti tersedot dan berpindah padanya (~-~)
Alasan kelima: blogosphere sudah berubah. Dunia blog Indonesia yang dulu sangat kekeluargaan, telah menjadi begitu besar dan terkotak-kotak. Dahulu, para blogger bagaikan satu kelompok termarjinalkan yang ingin diakui keberadaannya. Setelah blog booming dan berkembangbiak menjadi sedemikian banyak, berubah menjadi kelompok mayoritas di dunia maya yang mampu menciptakan gerakan blogger power. Sayangnya, kekuatan itu terkadang disalahgunakan oleh para blogger sendiri. Tidak jarang terjadi “pembantaian karakter” di dunia maya yang dipancing oleh beberapa orang saja, namun dikeroyok habis2an oleh para pengikutnya. Sedihnya lagi, penghakiman massal ini seringkali kebablasan. Yang diserang bukan lagi pendapatnya, melainkan orangnya secara keseluruhan. Perbedaan persepsi & opini oleh seorang yg terlanjur dianggap “public enemy” bisa berujung ke penelanjangan dalam gambar digital. Melihat ini, saya bagaikan kembali ke masa SMU, di mana sering sekali terjadi tawuran, dan saya jadi enggan ke sekolah karena takut kena imbasnya. Para pelajar yang tak terpelajar itu hanya berani kala beramai-ramai, namun tak bernyali saat sendiri.
Alasan keenam: godaan microblogging & social networking. Godaan ini berawal dari diluncurkannya Friendster di Indonesia pada 22 Maret 2003, kemudian Multiply pada Maret 2004, lalu Facebook pada September 2006, dan terakhir Twitter di tahun yang sama. Keinginan untuk menulis panjang lebar teredam oleh praktisnya mengupdate status dalam 1-3 baris kalimat saja di microblogging. Ditambah lagi kebutuhan bersosialisasi terpenuhi dengan interaktivitas yang tinggi di social networking. Semakin banyak bermunculan situs berbasis web 2.0 yang memungkinkan kita tidak lagi hanya sebagai penerima informasi, namun juga pemberi informasi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.
Hingga suatu hari, sebuah mimpi secara ajaib membawa saya kembali ke masa lalu. Saya seperti diajak pulang ke rumah tempat saya dibesarkan. Saya baca lagi semua tulisan yang telah terlupakan. Saya buka lagi tiap lembar kenangan. Wah, ternyata mengasyikkan. Betapa rangkaian kata dalam deretan kalimat mampu membuat say a tersenyum, tertawa, merenung, bahkan menitikkan air mata. Saya tersentak! Dan seperti terbangun dari tidur panjang. Bahwa saya selama ini telah melupakan sesuatu: berbagi.
Berbagi cerita. Berbagi pengalaman. Berbagi kebahagiaan. Berbagi kesedihan. Berbagi pengetahuan. Berbagi ilmu. Berbagi inspirasi. Berbagi informasi. Berbagi apapun yang bisa saya bagi dalam bentuk tulisan. Bukan hanya dalam sepenggal status fb. Bukan hanya dalam 140 karakter twitter. Melainkan dalam untaian alinea yang tertuang di sebuah blog.
Kuatlah NIAT saya untuk ngeblog lagi. Ternyata dengan NIAT, semua ALASAN di atas dapat dengan mudah dipatahkan. Sibuk? It’s just a matter of how I manage my time. Family? As long as they have time to sleep, then I have time to write. Business? The web is open 24/7, but the service is only open on weekdays at working hours, right? Menutup diri & menjaga hati? Godaan bisa datang dari mana saja, tergantung bagaimana kita menanggapinya. Blogosphere? Sebagai bagian dari keluarga besar blogger, kita punya andil untuk tetap membiarkannya demikian atau mengubahnya sekalian. Microblogging & social networking? Hey, bukankah update status fb dan kicauan teman2 di twitter justru bisa memperkaya ide topik bahasan di blog kita?
Saat itu juga saya merasa perlu untuk berbagi. Saya merasa sangat bersemangat menulis lagi. Kebetulan, hari itu bertepatan dengan satu tahun saya resmi vakum dari dunia karir. Hasilnya, dengan berbagi saya merasa lebih berguna dan bahagia. Tentu saja, gaya penulisan saya kini berbeda dengan 8 tahun lalu. My blog is growing up and getting mature, just like me. Blogging is not merely about what I do, think, or feel. It’s about what I can share to others. And surprisingly, I just found my lost passion. Blogging, it is.
Rasanya, saya ingin berteriak kepada para penganut tren sesaat : LET’S GO BACK TO BLOG ! And enrich our blog world …
Sesuatu yang menurut kamu biasa saja, bisa menjadi berguna bagi orang lain lho. Sesuatu yang menurut kamu “ah, itu sih semua orang juga tau!”, belum tentu semua orang tau. Sesuatu yang menurut kamu nggak ada gunanya untuk dibagi, siapa tau justru menjadi inspirasi. Yang kita perlu hanyalah berbagi.
“You’re happiest while you’re making the greatest contribution.” Robert F. Kennedy
Dan, KINI, arti sebuah blog bagi saya adalah:
“Tempat saya berbagi pengalaman, bertukar ilmu & pengetahuan, menyumbangkan ide & pikiran, memberi motivasi & inspirasi, yang mudah2an berguna bagi orang lain dan diri saya sendiri.”
Ingin tau apa manfaat dan arti sebuah blog bagi para blogger populer di Indonesia? Baca di postingan selanjutnya ya ^_^


