November 20124 min read

Balada Pembantu Rumah Tangga

Sudah hampir 2 minggu ini saya tidak punya asisten rumah tangga. Si mbak yang selama 1,5thn terakhir membantu, saya suruh pulang kampung untuk nikah, karena pacarnya tertangkap basah tiduran di kolong kasur di dalam kamar si mbak (yg tentu saja di dalam rumah saya), siang bolong, telanjang dada, cuma pakai celana pendek warna pink! (yg saya duga adalah celana si mbak). Dan kurang ajarnya lagi adalah, kejadian itu pas saya ada di rumah dari pagi, dan mereka tau betul saya ada di rumah. Bagaimana kalau pas nggak ada saya, coba?? Padahal sebelumnya si mbak sudah berjanji nggak akan ngulangin lagi waktu saya tegur dia setelah ada yang memberitahu bahwa pacarnya sering diajak masuk ke rumah. Kali ini sudah tidak ada toleransi lagi. Saat ia SMS kemarin, saya katakan tak perlu balik lagi. Malu sama tetangga, semua sudah pada tau kelakuannya. Ya komplek perumahan itu kan kelihatannya saja sepi, tapi matanya banyak dan dindingnyapun bertelinga. Kecewa, itu pasti. Selama ini saya sudah menganggap si mbak seperti keluarga sendiri. Di depan teman2 saya sering memuji kinerjanya. Mampu menghandle 2 anak saat saya bekerja, sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah. Terkadang ia juga mengerjakan tugas2 yang tidak saya perintahkan. Makanya saya beri gaji melebihi yg dia minta, plus bonus mingguan pula. Dan saya percaya saja padanya. Namun ternyata kepercayaan saya itu yang dia manfaatkan dan disalahgunakan. Dan selama ini saya tutup mata saja jika ada barang2 yang hilang (termasuk HP & cincin emas), toh saya juga menaruhnya sembarangan. Baru setelah kejadian itu, semuanya ketahuan, dan saya baru bisa mengkorelasi semua kejanggalan dengan bukti2 yg ada. Untuk menghindari hal serupa tapi tak sama, berikut ini pelajaran penting yang saya dapatkan: Jika si mbak berinisiatif skype dengan alasan menanyakan PR anak2 atau obat mana yg harus diminum, jangan senang dulu. Ternyata itu hanya usahanya untuk mengetahui di mana keberadaan saya, supaya ia bisa memperkirakan kapan pacarnya bisa masuk rumah atau pulang. Kadang ia jg mengecek keberadaan saya/suami lewat telp ke sopir. Ini kejadian saat ramadhan kemarin, di mana saat orang lain sedang tarawih, ia malah pacaran di kamar, saat saya & suami sedang makan malam di rumah! Tentu saja saat itu saya tidak tahu, dan baru ketahuan belakangan. Sebelumnya ia menyuruh anak saya skype dengan alasan menanyakan PR, dan tampaknya dia kaget saat 45 menit kemudian saya sudah sampai di rumah (biasanya 1-2 jam). Jika si mbak berinisiatif merapikan seluruh isi lemari pakaian tanpa diminta, jangan senang dulu. Ternyata itu adalah usahanya untuk mensortir baju mana yang bisa ia pakai saat saya tidak ada. Ini kejadian saat saya pulang liburan, mendapati lemari rapi jali. Saat itu reaksi saya ya senang2 saja. Ternyata kemudian saya mendapati foto2 ia mengenakan baju2 saya, dan ada beberapa pakaian & aksesoris saya (dan anak2 juga!) di lemarinya, tanpa seizin saya. Padahal, saya sering sekali memberikan padanya pakaian yg sudah bosan saya pakai. Jadinya kok seperti kucing, seberapa kenyangpun dikasih makan, kalau lihat ikan asin nganggur tetap saja dimalingin. Jika si mbak berinisiatif merapikan seluruh isi kamar sampai menyusun ulang tatanan barang2, jangan senang dulu. Ternyata itu adalah usahanya untuk memindahkan barang2 printilan yang dipikirnya nggak akan saya ingat kalau hilang. Dan jika saya cari, ia akan berdalih kemarin habis dibereskan, ditaruh di kamarnya supaya tidak berantakan. Barang printilan itu seperti charger HP (dia punya 5 HP, lebih banyak dari punya saya & suami), souvenirs from events (ini banyak bgt), selusin gantungan kunci dari luar negeri, bahkan kado anak saya yg diberikan oleh temannya tidak disampaikan tapi disimpan di lemarinya. Pantas saja selama ini kamar saya selalu rapi, tapi ruangan lainnya jarang dibersihkan kecuali saya minta. Jika si mbak berinisiatif mengantar/jemput anak2 jauh sebelum waktunya, jangan senang dulu. Ternyata itu adalah kesempatan dia kopdaran sama cowok2 bermotor di pinggir jalan. Info ini saya dapatkan belakangan dari ibu2 di sekolahan. Selama ini saya senang2 saja kalau dia bilang mau menunggu anak2 di sekolah, toh pekerjaan rumah juga sudah beres. Dan saya kira itu karena dia senang bersosialisasi dengan sesama mbak di sekolah. Tapi mengingat kecentilannya dengan cowok2 bahkan bapak2 tukang bangunan sekalipun, kok ya jadinya mengkhawatirkan. Yah, saya menganggap ini juga jalan Tuhan supaya saya sadar bahwa ia tidak sebaik yang saya kira (dan harapkan). Saya juga sadar bahwa saya bukan bos terbaik, bahkan sering juga melakukan kesalahan, meski tidak sefatal yang ia lakukan. Berbekal pengalaman tersebut disertai doa dan usaha, semoga kami bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik, jujur, rajin, dan terutama sayang anak-anak. Amin!