Pa, masih ingatkah Papa waktu Nie kecil, papa paling rajin mengajak Nie & kk jalan2 ke Monas & Ragunan, hampir setiap minggu? Nie masih ingat, kita main bola & layang2 dan melihat air mancur di sana. Menggelar tikar dan makan bekal yg dibawakan mama. Meski banyak tukang mainan & jajanan, Nie nggak pernah merengek minta dibelikan. Nie mengerti papa mama berhemat, pilih Monas juga karena gratis dan Ragunan karena murah. Dulu nggak ada mall. Juga nggak ada gadget. Jadi yang Nie ingat, adalah murni kebersamaan kita sekeluarga tanpa interupsi konsumerisme & modernisasi. It was beautiful.
Pa, masih ingatkah Papa waktu Nie kecil, papa paling rajin membacakan Nie & kk buku cerita atau mendongeng sebelum tidur? Papa paling jago mendongeng, kadang disertai ilustrasi gambar tangan papa yg indah. Setiap bulan papa membelikan buku, dari uang tips pengunjung restoran yang dikumpulkan selama sebulan. Sampai sekarang, tiap kali makan di restoran Nie selalu merasa ada yg kurang kalau tidak memberikan tips meski hanya sedikit. Karena dari yg sedikit itu dulu papa bisa mengumpulkan & memberikan impact yg cukup besar buat Nie.
Pa, masih ingatkah dulu setiap Nie sakit, papa selalu berdoa sambil mengusap kepala Nie? Setelah itu Nie langsung merasa baikan, meski mungkin hanya sugesti. Sampai sekarang tiap kali kepala Nie diusap, Nie selalu teringat kasih sayang papa. It was wonderful.
Pa, masih ingatkah dulu ketika pertama kali papa punya motor, Nie dibonceng saat hendak ke sekolah, tapi baru sampai gang depan rumah kita jatuh karena tak kuat menanjak? Atau ketika pertama kali papa punya mobil, papa mengajak kami berkelilinf dengan mesin mati mendadak beberapa kali karena papa belum mahir menyetir? Lalu ketika Nie kuliah, papa setia mengantar Nie setiap pagi dari Mampang ke Pondok Kelapa? Bahkan hingga Nie sudah bekerja, papa tak segan mengantar bekal makan siang untuk Nie sambil papa berangkat kerja? Kita selalu mengambil kesempatan itu untuk bertukar cerita, tentang apa saja.
Pa, masih ingatkah ketika papa pertama kali punya cucu? Dengan gembira papa membeli sebungkus besar gorengan untuk dibawakan ke anak2 buah papa di restoran. “Untuk merayakan hari istimewa”, kata papa. Atau ketika papa menjemput mama pulang dari luar kota? Dalam perjalanan ke bandara, dengan berseri-seri papa berkata, “Papa udah siapin something special buat mama: roti isi daging!” Kesederhanaan papa selalu membuat Nie terharu..
Pa, masih ingatkah ketika papa pulang memeluk mama, Nie, kk & adik karena gembira mendapat kerja setelah diPHK perusahaan sebelumnya yg bangkrut? Tanpa kenal lelah papa bekerja dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam di perusahaan yg sama selama hampir 20 tahun, untuk menyekolahkan dan menghidupi kita sekeluarga? Dan setelah pensiun, papa dengan semangat beternak ayam & ikan dan menanam sayur mayur di atas loteng? Atau ketika dengan bangga papa bercerita, sedang membuka usaha baru: jual beras & telur? Kerja keras papa tak pernah gagal membuat Nie menghargai dan bersyukur atas semua yg kita miliki.
Pa, masih ingatkah ketika papa mendatangi Nie lewat mimpi setelah papa terkena serangan jantung saat ibadah haji di Mekkah? Di mimpi itu Nie diyakinkan papa akan pulang dengan kursi roda, namun kesempatan terbatas hingga 2x saja. Saat itu Nie nggak mengerti, apa maksudnya 2x saja. Nie sempat mengira maksudnya adalah maksimal 2 bulan lagi, makanya selama Januari kemarin Nie was2 sekali. Ternyata maksudnya adalah 2x sakit lagi..
Pa, masih ingatkah hari2 ketika papa dirawat di rumah Nie setelah pulang haji? Those were some of the best days of my life. I feel so blessed that God had given me the opportunity to take care of you.
Pa, masih ingatkah ketika kemarin, 12 jam sebelum papa menghembuskan napas terakhir, kita ngobrol berdua di rumah sambil makan gado2? Siang itu sehabis meeting Nie menolak ajakan teman untuk makan siang, karena Nie ingin bertemu papa. Saat Nie cium papa, Nie merasakan pipi papa panas. Papa bilang, “Kalau lagi sakit begini papa inget di Mekkah; tiap hari ngitungin hari kapan pulang..”
Sekarang, papa sudah benar2 pulang ke rumah keabadian. Mama bilang, papa terbangun jam 3:30 dan melongok ke depan. Saat mama tanya ada apa, papa tidak menjawab apa2. Papa langsung ke kamar mandi dan terjatuh. Mama sempat memberikan obat jantung dari dokter, tapi setelah 3x menghembuskan nafas, papa telah tiada. Meski sadar bahwa papa sudah tak bernyawa saat Nie datang jam 4 pagi, tetap kami bawa papa ke RS Medistra. Seperti telah diduga, dokter menyatakan papa telah tiada..
Dari jam 4 sampai 6 pagi Nie menemani papa di kamar jenazah sampai dijemput ambulans, Nie tidak menitikkan air mata setetes pun. Sama sekali bukan karena Nie tidak sayang papa, tapi karena Nie merasa seperti sedang menemani papa tidur saja. Badan papa masih hangat seperti kemarin, wajah papa bercahaya dan tersenyum seperti biasanya. Nie cium kening dan pipi papa berkali2. Nie ikhlas seikhlas2nya karena tidak punya penyesalan apapun juga..
Saat jenazah papa tiba di rumah dan mama meraung2 dan pingsan berkali2, barulah Nie meneteskan air mata. Namun saat para pelayat berdatangan, Nie tidak menangis lagi. Terlebih saat teman2 datang, Nie masih bisa tersenyum bahkan tertawa. Saat jasad papa dimandikan, cucu2 perempuan papa semua menyaksikan, terutama Vica yg setia menunggui bahkan hingga dikafankan. Saat jasad papa dikuburkan dan mulai ditutup dengan tanah, saat itulah Nie tak bisa menahan tangis. Di situlah Nie baru benar2 sadar, bahwa Nie nggak akan pernah bisa memeluk & mencium papa lagi, sampai Nie menyusul papa suatu hari nanti…
Pa, Nie yakin papa pasti damai di surga. Semua orang bilang papa orang baik, sangat baik. Papa meninggal pun di hari & waktu yang baik. Kata orang, Jumat adalah hari terbaik, dan sebelum subuh berarti papa tidak ada hutang sholat apapun. Nie ingin anak2 tahu semua kebaikan papa, melalui cerita2 tentang papa seperti yg selama ini sering Nie sampaikan pada mereka. Michelle bahkan sudah pandai menceritakan ulang, dia bikin buku khusus tentang papa & mama tadi pagi..
Rest in peace papa, we love you so much.