



Tahun ajaran baru telah dimulai, anak2 pun kembali ke sekolah memasuki kelas baru. Tak terasa, si kk sudah naik kelas 3 SD, si adik kelas 1 SD. Rasanya baru kemarin melahirkan, menyusui, dan mengganti popok mereka! Time flies faster when you raise kids =)
Hari pertama kembali ke sekolah, si kakak pulang dengan wajah sangat ceria, dan bercerita banyak tentang kegiatannya di sekolah, meski muridnya sama dan tidak ada yang baru, hanya wali kelasnya saja yang baru. Hari pertama ini ia diantar daddy-nya, sekalian ambil rapor, seragam sekolah, dan buku yang baru. Mommy tidak bisa mengantar karena harus mendampingi adiknya yang masuk sekolah baru. Yang lucu, dengan polos ia bercerita: “Tadi aku dianter daddy. Aku malu. Kan aku udah gede.” Ohhh…
Si adik pun emangat masuk sekolah baru, meski awalnya terlihat agak tegang. Ia bangun jam 5 pagi untuk kemudian naik antar jemput jam 5:30 dan mengikuti upacara pukul 7:00. Hari pertama belum belajar, baru tes penempatan kelas berdasarkan kemampuan membaca dan berhitung. Tes ini bukan tes saringan masuk, tapi lebih ke pengelompokan kelas supaya proses belajar mengajarnya lebih efektif. Jadi yang sudah lancar membaca kelasnya dibedakan dengan yang masih belum lancar membaca, supaya akselerasinya juga lebih mudah. Hari kedua diumukan hasilnya, ternyata dia berhasil masuk ke kelas utama yang isinya murid2 yang sudah pandai membaca & berhitung :)
Selama 2 hari pertama aku ikut mengantar dan menunggu si adik sampai pulang sekolah, bersama ibu2 murid baru yang lain. Banyak wajah familiar karena 20 dari 25 murid sekelas waktu si adik TK ternyata melanjutkan ke SD yang masih satu yayasan ini juga. Obrolan seputar perkembangan anak pun mengalir. Salah satu pertanyaan paling umum yang sering diajukan padaku adalah: “Kenapa kakak sama adiknya nggak sekolah di tempat yang sama?”
Jawaban singkatnya: “Karena kebutuhan mereka berbeda”.
Si kakak, sangat otak kanan, kemampuan untuk fokus dan rentang waktu konsentrasinya cenderung lebih pendek. Pendekatan mengajarnya juga butuh yang lebih persuasif. Dia paling tidak cocok dengan pengajaran yang represif. Dulu pernah dia ketakutan berangkat sekolah tiap ada pelajaran matematika, karena gurunya galak dan dia kurang mampu mengikutinya. Mungkin juga sebabnya karena ia terlalu muda. Karena lahir akhir Oktober, dia masuk sekolah lebih cepat. Usia 2,5 tahun sudah masuk playgroup, usia 5,5 tahun sudah masuk SD. Dia juga butuh suasana tenang dengan jumlah murid yang lebih sedikit supaya bisa “kepegang”. Di sekolahnya ini, muridnya hanya 20 anak sekelas, dengan 1 guru dan 1 asisten, dan 1 angkatan hanya 1 kelas. Bahasa pengantarnya juga full english, jadi bahasa inggrisnya bisa terasah lagi. Dulu kemampuan bahasa inggrisnya belum sebagus adiknya, tapi sekarang kemampuan mereka sudah seimbang.
Si adik, sangat otak kiri, hampir tidak pernah ada masalah dalam kemampuan dan kemauan belajar. Usianya pas, karena lahir bulan Maret, usia 3 tahun masuk playgroup, 6 tahun masuk SD. Sejak playgroup hingga lulus TK ia mampu menguasai semua mata pelajaran dengan baik. Bahkan di pelajaran bahasa inggris, 2 tahun berturut-turut ia mendapatkan nilai 100 saat ujian akhir. Saat di playgroup bahkan gurunya bilang, ia sampai harus menstop Vica tunjuk tangan saat kuis bahasa inggris, supaya murid lainnya dapat giliran :)) Di sekolahnya sekarang ini, dia sekelas dengan 32 orang lainnya, dengan 1 guru, dan 1 angkatan ada 3 kelas, Bahasa pengantarnya Indonesia dan hanya di pelajaran English, Science, dan Math saja yang menggunakan bahasa Inggris. Ini juga untuk mengimbangi kemampuannya berbahasa Indonesia yang justru tidak secanggih kemampuan naturalnya berbahasa Inggris, hehe.
Mudah mudahan mereka mendapatkan sesuai yang mereka butuhkan. Semoga saja pada saat masuk SMP nanti kebutuhannya sudah sama jadi tidak perlu sekolah di tempat yang berbeda. Dan tidak menutup kemungkinan pula jika ada perkembangan, salah satunya dipindahkan untuk bisa bersekolah di tempat yang sama :)
Tambahan: Di sekolah si kk tidak ada sistem ranking, cocok buat M yg kurang suka dengan kompetisi dan daya juangnya tidak terlalu tinggi. Sedangkan di sekolah si adik ada sistem ranking, cocok buat V yg sejak kecil memang kompetitif dan punya daya juang yg tinggi.