July 20142 min read

Thought via Path

Ingin menuliskan satu hari yg menyenangkan untuk sebongkah kenangan di masa depan :)

Pagi hari dibangunkan oleh suara bel, sopir beserta istri dan anaknya berkunjung ke rumah untuk ambil gaji sekaligus silaturahmi. Kami mengabulkan doa istrinya dengan menaikkan gaji suaminya. Tak lupa juga amplop lebaran untuk keempat putrinya. Mereka mengucap syukur diiringi doa semoga rejeki kami bertambah. Amin!

Siang hari kami kerjabakti membereskan rumah. Saya menyapu, vacum debu, mencuci baju si kecil, mengangkat jemuran, melipat dan menyusun pakaian. Suami mencuci piring kotor usai sarapan, merapikan tempat tidur, membersihkan kamar, dan… memberikan saya setumbler teh manis hangat buatannya saat saya sedang berpeluh membereskan pakaian. Tindakan sederhana yg mampu membuat saya bahagia :)

Sore hari ke rumah mentor pernikahan kami untuk follow up weekend pasutri beserta 4 pasutri lainnya. Kegiatan yg dilakukan sebulan sekali ini bagaikan suplemen bagi kesehatan pernikahan kami. Selama 4 jam kami saling belajar melalui dialog terbuka antar pasangan dengan tujuan untuk saling mendengarkan, support, dan memahami pasangan lebih baik lagi. Sungguh kesempatan berharga bagi kami bisa belajar dari mereka yang sudah menikah selama 15thn, 19thn, 35thn, dan 44thn!

Malam hari ke dokter karena batuk pilek saya sudah mengakibatkan radang yang menyebabkan suara saya hilang. Dan seperti biasa, satu kena batuk flu maka sekeluarga pun tertular. Yang paling menyebalkan itu bukan bapilnya, tapi pantangan minum dingin sebelum sembuh itu sungguh menyiksa :’( Pulangnya makan hokben di rumah sambil movie marathon Smurf dan Real Steel di TV berlangganan.

Ingin menutup tulisan ini dengan kata2 “bahagia itu sederhana”, tapi apa yang aku pikir sederhana bisa saja merupakan suatu kemewahan bagi orang lain. Jadi rasanya yg lebih tepat adalah: bahagia itu mensyukuri nikmat yg Tuhan berikan apa adanya.

Nighty night :) – Read on Path.