July 20142 min read

Heal the pain through painful healing

Saya paling nggak suka diurut. Rasa sakitnya itu lho, bikin saya takut. Seumur hidup seingat saya baru 2x berani diurut. Pertama setelah kepeleset dari tangga penyebrangan (lagi hamil muda pula). Kedua setelah kepeleset dari tangga rumah karena bocor hujan. Dua2nya sukses bikin saya jejeritan kesakitan. Tapi setelah itu, tak ada lagi sengsara berkepanjangan.

Hari ini, saya memberanikan diri lagi untuk diurut. Tepatnya, menyerahkan diri untuk disiksa, huhuhu. Sejak kepeleset dari toilet bandara 14 hari lalu, saya masih saja belum bisa berjalan normal. Mata kaki masih bengkak dan terasa sekali ada salah urat. Jika dibiarkan tentu mengganggu kenyamanan dan aktivitas saya jadi terbatas. Namun yang lebih mengkhawatirkan, jika saya kebal terhadap rasa sakit itu karena sudah terbiasa, padahal masih ada sesuatu yang harus diluruskan di dalam sana dan di masa depan bisa berakibat lebih fatal.

Pengalaman sahabat saya Detha bisa dijadikan contoh. Di awal kehamilan, dia pernah terpeleset di tangga. Namun karena sakitnya masih tertahankan, maka ia abaikan. Tak ada treatment khusus yg ia berikan. Ketika kehamilannya membesar, ia mulai merasakan sakit luar biasa di pangkal pahanya. Katanya, untuk melangkah saja sakitnya luar biasa. Setelah diperiksa, ternyata ada urat saraf terjepit akibat ia pernah terjatuh tempo hari itu. Ia diharuskan bedrest sampai melahirkan :(

Saya percaya, sebuah proses itu bukan hanya butuh waktu, tapi juga butuh usaha. Dan tak jarang, proses itu menyakitkan. Namun betapapun sakitnya, harus tetap dijalankan. Setelah melalui proses menyakitkan itu, saya merasa ada perbaikan. Langkah saya menjadi jauh lebih ringan. Menyembuhkan rasa sakit melalui proses penyembuhan yang menyakitkan :)

Nuniek Tirta - 07 Juli 2014