Aku meraih cardigan pink yg tergantung di kepala bangku mobil, lalu memakainya. Aku mengharapkan hangat, namun dingin yang kudapat.
Suamiku menjelaskan,
“Ya karena baru dipakai aja jadi dingin. Nanti kalo udah dipakai juga hangat. Karena sebenarnya hangat itu kan didapat dari perputaran panas tubuh yg terjebak di baju yg kita pakai.”
Aku menambahkan,
“Oh, sama seperti rumah kosong ya. Atau tempat tidur yang nganggur. Baru terasa hangat kalau ada yang menempati.”
Dalam hati, akupun mencoba berfilosofi:
“Sama seperti hati manusia. Jika lama tak tersentuh, hati menjadi dingin. Hati butuh ditempati untuk kembali hangat. The heat is actually there all the time, but we just need to re-activate it. Most of the times, we need someone special to do it for us.”
Sounds familiar. So much dejavu.
Ps: Written on our way to Senen train station, heading to Malang. On the same day of Kelud eruption.