
Kami sekeluarga baru saja kembali dari liburan di kampung halaman mama saya, Sungailiat Bangka. Keesokan harinya, kami makan malam di luar dan membahas banyak hal, salah satunya tentang trauma. Salah satu anak kami bertanya, “bagaimana cara menghilangkan trauma?”. Anak yang lain menjawab, “Get through the five stages of grief”.
Saya bertanya, “kemarin dari bandara, kalian bawa koper masing-masing kan?”
“Yes”, they said.
“Now, where are your luggages?”
“At home”, they answered.
“Kenapa kopernya sekarang ga dibawa-bawa lagi?”
“Coz the trip is over”
“Exactly!”
Seringkali kita ngga sadar, bahwa kita membawa koper ke mana-mana. Padahal isinya cuma “baju kotor” bernama: trauma masa lalu, inner child yang terluka, kekecewaan yang terpendam, amarah yang tak tersampaikan, dan lain sebagainya.
Kita mengira, koper itu adalah bagian dari diri kita. Kita bahkan tidak sadar, bahwa sesungguhnya kita punya BANYAK PILIHAN:
- meninggalkan koper itu di rumah, tidak perlu dibawa ke mana-mana.
- mengosongkan koper berisi “baju kotor” dan membawanya ke laundry, jadi bisa dipakai lagi dalam keadaan bersih.
- menyumbangkan koper (beserta isinya jika mau)
- lem biru, lempar beli baru.
You don’t have to carry it around all the time. The trip is over, you can now drop the luggage down.
Jakarta, 6 Januari 2023
@nuniektirta
#nutsays #nutstory #nutswisdom #nutslyfe (at De Locomotief)
https://www.instagram.com/p/CnEmYO3BAmL/?igshid=NGJjMDIxMWI=