Hari ini 17 Maret 2010 putri keduaku Videlynn Callysta Zippora berulang tahun yang ke-2. Semoga ia dapat menjadi terang bagi orang2 di sekelilingnya, disayang Tuhan dan semua orang, senantiasa sehat & bahagia di setiap langkah kehidupannya, dan selalu dapat membuatku tersenyum setiap hari.
Di usianya ini cukup banyak hal yang sudah dapat ia lakukan sendiri. Sejak bayi, memang sudah terlihat bahwa putriku ini sangat mandiri. Contoh yang paling nyata ialah, ia hampir tidak pernah mau makan disuapi. Sejak ia bisa menyuap sendiri -sekitar 9 bulan- ia selalu makan sendiri. Kalau disuapi justru menolak makan. Saat akan keluar rumah, ia juga terbiasa mengambil sandalnya sendiri di lemari. Selain itu, ia mampu menciptakan dunianya sendiri. Seringkali ia menciptakan permainan sendiri dengan cara kreatif. Bahkan kantong kresek bolong pun bisa ia imajinasikan sebagai shopping bag dan iapun asyik bermain pasar2an sendiri. Atau ketika aku berikan sebuah wadah bulat, tanpa pikir panjang langsung ia pakai sebagai topi dan kita semua terbahak2.
Vica itu unik. Waktu bayi, wajahnya bule sekali. Banyak yg tidak percaya kalau bapaknya Jawa asli. Dan sejak lahir, rambutnya beda sendiri. Keriting. Padahal, rambutku lurus selurus2nya. Rambut Daddy-nya juga tergolong lurus meski agak ikal. Dan rambut kakaknya (Michelle) persis rambutku. Gara2 perbedaan itu, seringkali orang mempertanyakan -dengan cara bercanda- siapa bapaknya sebenarnya. Tersinggung, kadang. Tergantung bagaimana cara penyampaiannya. Tapi seringnya aku tanggapi dengan santai saja. Toh Tuhan pun tahu, bahwa tidak ada orang lain yang pernah “menanam saham” selain suamiku. Andaikata tes DNA itu gratis, sudah pasti aku lakukan dan hasilnya aku bingkai dan upload ke blog/FB/twitter untuk menjawab semua kecurigaan. Mungkin berlebihan, tapi setidaknya melegakan.
Vica itu tomboy. Sejak sekitar 1 tahun, ia sudah bisa menentukan seleranya sendiri. Ia sering menolak pakai dress yg girly, dan memilih pakai kaos & celana army. Ia jarang mau pakai sendal/sepatu girly, dan memilih yg boyish. Ketika pergi ke toko mainan, hal yg selalu menarik perhatiannya adalah mobil2an, bola, dan robot. Kalau disodorkan barbie atau mainan2 perempuan lainnya, ia lebih sering menolak. Jika keluar rumah, ia selalu minta pakai topi. Dan, topinya pun tidak mau yg model perempuan. Maunya yang model laki2, seperti topi baseball. Kadang aku sengaja umpetin topinya dan mengalihkan perhatiannya supaya tidak ingat. Beda banget deh dengan kakaknya yang super girly.
Vica itu tegar. Seringkali ia menjadi korban kecemburuan kakaknya. Didorong sampai jatuh, digencet, dipukul kepalanya, dibentak, dan dicubit oleh kakaknya, semua sudah pernah ia rasakan. Tapi ia tidak selalu menanggapinya dengan tangis. Seringkali, reaksinya membuatku takjub. Pernah, saat ia mau masuk kamar, Michelle langsung histeris melarang dan membanting pintu. Bukannya menangis, Vica justru tertawa. Mendengar adiknya tertawa, Michelle mengintip di sela pintu. Melihat kakaknya mengintip, Vica spontan bilang, “baaaa!”, seperti main cilukba. Michelle yg tadinya marah, malah ikut tertawa dan akhirnya mengajak Vica main bersama di dalam kamar. Dari kejadian itu aku belajar, bahwa ketika orang lain menutup pintu untuk kita (entah pintu rejeki, peluang, dll), daripada bersedih & menangis, lebih baik hadapi dengan senyum & tawa. Dengan demikian orang yg menutup pintu itu akan malu dan menyesal, dan justru mengajak kita untuk masuk ke dunianya.
Vica itu cerdik. Ia tak pernah mau merebut mainan yang dipegang kakaknya. Sebaliknya, kakaknya sering sekali merebut mainan yang Vica pegang. Tapi jangan khawatir, biasanya Vica punya taktik sendiri untuk merebut kembali. Caranya? Ia serahkan mainan itu, lalu cari mainan baru dan terlihat asyik sendiri. Biasanya, kakaknya akan tertarik dengan mainan baru itu dan mulai mensabotasenya. Nah, ketika kakaknya sudah lupa dengan mainan pertama tadi, Vica pun meninggalkan mainan baru yg ia ciptakan sendiri itu dan merebut kembali ke mainannya yang pertama :D Suatu hari, Vica terlihat ingin sekali main nintendo. Sayang, Michelle tak mau memberikan. Saat Michelle lengah, ia pelan2 mengambil nintendo itu. Sudah bisa ditebak, Michelle marah dan merebutnya. Vica tidak marah atau menangis sama sekali. Lalu ia berbalik kepadaku yg sedang tengkurap, dan naik di atas punggungku seperti main kuda2an. Ia duduk berdiri seperti memacuku, dan akupun tertawa bersamanya. Nah, Michelle otomatis tertarik melihatnya. Iapun naik ke atas punggungku dan menggeser Vica. Lagi2, Vica tidak marah dan beranjak pasrah. Dan apa yg Vica lakukan? Dengan cepat ia mengambil Nintendo yang ditinggalkan Michelle, dan asyik memainkannya =)
Vica itu usil. Ia suka sekali mengelitiki orang. Sering ia mengejar Michelle untuk mengelitik perut & kakinya dan Michelle pun tertawa kegirangan. Sering pula ia mengajak becanda dengan cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Suatu malam, aku memarahinya karena rewel sekali. Minta ini itu sudah dituruti tapi malah marah2. Dibujuk pelan2, ngggak mempan. Aku yg sudah capek sekali menanganinya sendiri, kehilangan kesabaran. Aku marahi saja sekalian. Ia menangis, akupun menangis. Setelah tangisnya reda, aku peluk dia dan belai kepalanya. Tak disangka, ia memandangku dan tersenyum maniiiiiissss sekali. Lalu ia memegang wajahku dan… jari telunjuknya masuk ke lubang hidungku mencari upil! Hahahaha…
Vica, jika suatu saat nanti kamu sudah besar dan dapat membaca tulisan ini, Mommy wants you to know how much I love you… In spite of how many times I did mistakes and how I loose patience quite easily, I need you to know that disappointing you is the last thing I would ever do. You and Michelle are the precious ones that God ever grant me in my life… <3 <3 <3