Ketika mendapat undangan Bloggers Workshop – It’s all about Belgian Chocolate, saya tentu saja tidak menolak. Pertama, karena memang saya suka coklat (siapa juga yg tidak?). Kedua, karena saya ingin tau apa bedanya coklat Belgia dengan coklat biasa. Ketiga, penasaran juga dengan renowned chocolatier asal Perancis bernama Laurent Bernard. Ganteng nggak ya? Hihihi >:D

Di saat seperti ini saya bersyukur vakum dari kerja kantoran 9-5, jadi bisa datang ke acara yg diadakan pada hari dan jam kerja (Rabu, 4 Agustus 2010 12:30 – 17:00). Setelah bertanya di twitter mengenai lokasi, tibalah saya on time di Emilie Restaurant, Jalan Senopati 39 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Ternyata letaknya setelah Nenenshop, sebelum tikungan ke arah SCBD.

Begitu masuk, saya disambut oleh para pelayan berjas yg super ramah dan elegan. Setelah mengisi buku tamu, saya dipersilakan memilih tempat duduk. Satu meja terdiri dari 4 bangku. Bergabunglah saya dengan Mas Wasis Gunarto dari JalanSutra dan dua teman baru lainnya. Obrolan saya dengan Mas Wasis sangat nyambung karena sama-sama penggiat Twitter =) Ternyata Mas Wasis ini juga salah satu pemilik Kopitiam Oey dan Omah Sendok. Kapan2 boleh dong ya Mas “pinjam tempat” untuk acara #StartupLokal? =D Oya, di sana saya juga bertemu Sofia Kartika & Dita Fairyteeth dari CuriPandang.com, dan Mbak Ventura yang saya temui di LSPR saat launching buku Mas Silih beberapa waktu lalu.
Sambil berbincang, kami disuguhi makanan pembuka hingga penutup oleh restoran fine dining ala Perancis ini. Sebagai appetizer, ada Caesar Salad with Sauteed Prawns. Sausnya nikmat sekali, juicy dan tidak amis. Untuk main course, ada Roasted Chicken Breast & Mashed Potato. Sayang, roasted chickennya kurang empuk. Mungkin karena sudah terlanjur dingin karena kami keasyikan ngobrol ya. Tapi mashed potatonya yummy & cheesy (in positive way =p). Dan untuk dessert, ada Profiteroles with Ice Cream & Warm Dark Chocolate Sauce. Hmm…

Teman di twitter bilang, nasi goreng saja harganya 100ribu. Ah, mana… Saya lihat di websitenya di Menu Ala Carte, paling murah itu makanan pembukanya sup bawang harga 70rb, dan main course paling murah 220rb! Semua yg saya makan itu termasuk dalam Menu Dejeneur (lunch only) senilai 300ribu rupiah. Jadi kalo ke sini mending pas momen2 spesial aja deh: pas mau jadian, ngelamar pacar, atau ultah pernikahan misalnya =D Dan jangan lupa siapin dananya ya, karena menu dinnernya nggak cukup sejuta tuh buat berdua…
Selesai makan, kami dipersilahkan naik ke atas karena acara akan dimulai. Lantai 2 restoran ini menyerupai dapur modern, lengkap dengan kitchen set, big refrigerator, washtafel, dan marble table sebagai center of attention. Toilet tersembunyi di belakang kanan dapur, terjaga bersih dan harum. Di samping kiri beragam cemilan dan minuman ringan. Di depannya ada space untuk peserta duduk dengan kapasitas sekitar 50 orang. Dan seperti biasa, saya mengambil tempat favorit: bangku deret paling depan =)
Di sana, Laurent Bernard sudah standby. Dugaan saya tak meleset, ternyata ganteng beneran =D Laurent telah berpengalaman selama 20 tahun di bidang pastry & coklat, dan memantapkan diri menjadi Chef Cocolatier (Koki Spesialis Coklat). Setelah lulus dari sekolah kuliner di Perancis dengan spesialisasi Plated Dessert, Sugar Work, Modern Pastry dan tentu saja Coklat, Laurent bekerja di beberapa hotel bintang 5 bergengsi di London, Timur Tengah, Karibia, dan terakhir di Singapura sebagai Executive Pastry Chef di Meritus Mandarin Singapore. Tahun 2003 Laurent membuka “Laurent’s Café & Chocolate Bar” di Singapura.

Acara dibuka oleh MC dengan memperkenalkan Laurent Bernard, dilanjutkan dengan video mengenai proses pembuatan coklat Belgia. Apa yang membuat coklat Belgia unik? Kualitas bahan dan teknik pengolahannya yang konservatif merupakan jawabannya. Bahkan di masa kini yang serba mesin dan produksi massal, coklat Belgia masih dibuat dengan tangan di toko-toko kecil dan menggunakan peralatan yang orisinil. Justru toko-toko kecil tersebut menjadi salah satu objek wisata turis yang menarik. Di sana, para turis dapat mencicipi coklat dan membeli souvenir ekslusif, seperti halnya anggur.

Coklat Belgia populer sejak abad 18, tapi Jean Neuhaus pada tahun 1912 mempopulerkan coklat Belgia hingga 10x lipat dengan proses baru yang disebut “couverteur”, yaitu lapisan dingin yang ia sebut “praline”. Praline Belgia berbeda dengan isian permen yang ada di toko-toko Amerika. Praline coklat Belgia bisa diisi dengan macam-macam krim seperti kopi, hazelnut, buah, atau coklat kental. Satu teknik coklat Belgia yang menungguli coklat lain adalah penyimpanan “coverteur” sebelum digunakan. Dalam pembuatan coklat, biji kakao digiling dan dicampur dengan gula dan lemak coklat. Kemudian diperhalus dengan cara mengaduk-aduk (panas diatur secara hati-hati), dan ditempatkan ke tempat yang memiliki wadah pemanas segera setelah proses pengadukan. Jadi ketika akan diolah, bentuknya tetap cair dan memiliki aroma lebih baik dibanding yang telah dibekukan.

Setelah video selesai, Laurent Bernard langsung mendemokan cara pembuatan coklat praline dan ganache. Kami semua maju ke depan merapat ke marble table untuk melihat lebih dekat. “Dalam mengolah coklat, yang paling penting harus diperhatikan adalah suhunya” , kata Laurent seraya menambahkan suhu terbaik bertahap 45°C, 28°C, 31°C. Ia juga mengatakan wajib memiliki marble table jika mau mengolah coklat berkualitas. Satu lagi kalimatnya yang paling saya ingat karena mematahakan mitos yang selama ini saya ketahui: “In chocolate, being bitter is not a sign of quality. The bitter is not necessarily the better.” GREAT! Coz I much prefer sweet chocolate than the bitter ones.

Saya baru saja kembali dari kamar kecil ketika terjadi sedikit kegaduhan. Ternyata coklatnya sudah jadi dan semua berebut ingin mencoba, sementara saya terlambat dan tidak kebagian praline-nya. Huaaa… Maka ketika ganache mulai dibagikan, saya tak mau ketinggalan lagi, langsung saja maju dan mengambilnya satu. Rasanya? Soooooooo delicious! Seriously!! It was melted in my tongue, rasa manisnya paaassss banget. Now I know why Belgian chocolate is a bit expensive. Ada rasa ada harga, setara!

Laurent juga membuatkan kami minuman para dewa suku Maya, yang terbuat dari coklat dan sejenis krim susu (saya lupa namanya). Cara membuatnya mudah dan sangat cepat, tinggal tuang campurannya saja menjadi 2 lapis. Rasanya menurut saya agak asing, antara terlalu manis dan terlalu susu. Tapi toh habis juga, hahaha…

Selesai demo & icip2, saatnya kuis. 3 orang maju ke depan untuk menjawab pertanyaan tentang coklat, dan semuanya gagal! Pertanyaannya susah-susah banget >.< Udah gitu sistemnya gugur pula, yg salah jawab nggak boleh jawab lagi. Akhirnya Laurent mengganti pertanyaannya jadi gampang banget: “Siapa penemu benua Amerika?” Dan karena peserta kuisnya tinggal 1 orang yg bertahan di depan, maka dia dengan sukses menjawab “Columbus” dan berhasillah ia membawa pulang 1 set mixer Phillips. Envy him!
Sebelum bubar, seperti biasa… foto bersama dulu dong. Namanya juga bloggers! Haha. Lihat yg mana saya? Yak betul, tepat di samping Laurent ^_*

Dan oh, ada lagi dong foto berdua =D

Seakan belum cukup, saat akan pulang kami semua diberikan goodie bag yang isinya apalagi kalau bukan coklat! Yippeeee! Thanks Laurent Bernard for the super delicious chocolate, thanks Prisma PR for the kind invitation, and thanks Emilie Restaurant for the fine dining. What a one fine day ^_^

Coklat2 yummy di atas ini bisa didapatkan di Laurent’s Cafe & Chocolate Bar di 58 Portsdown Road #01-02 Singapore 13911 atau di 80 Mohammed Sultan Road #01-11 Singapore 239013, Tel: 62359007. Bisa pesan online juga lho di www.thechocolatefactoryonline.com !