
“Ayo mandi, tuh temennya udah mandi”
“Makannya habisin dong, adiknya aja habis tuh”
“Lauknya dimakan, itu enak! Ibu doyan”
Familiar dengan kalimat2 di atas?
Bisa menganalisa apa saja kesalahannya?
Ya, semua kalimat itu mengajarkan seseorang untuk melakukan sesuatu supaya SAMA dengan orang lain, bukan untuk tujuan sebenarnya. Padahal, kenapa juga harus sama sih?
Perlu mandi supaya tidak bau, bukan supaya SAMA dengan teman.
Habiskan makanan supaya kenyang, bukan supaya SAMA dengan adik.
Makan lauknya supaya gizinya cukup, bukan supaya SAMA dengan ibu.
Gimanalah mau berharap tidak ada pertikaian cebong kampret kalau sejak kecil saja sudah terbiasa didoktrin untuk selalu SAMA dengan yang lain. Makanya, penting sekali mengenalkan dan mengajarkan perbedaan.
“Berbeda itu tak apa-apa. Kita beragam, tak perlu jadi seragam.” Judul buku yang ditulis dan diilustrasi oleh @annisast untuk ultah Xylo yang kelima, sekaligus amal untuk disumbangkan ke @pelangibook ini keren banget.
Isinya full color, ilustrasinya uber cute! Memperkenalkan perbedaan dengan ringan, namun tetap menyampaikan makna yang cukup dalam. Eh ada temanku Angkie Yudistia juga disebut di sini :)
Yang mau punya bukunya juga silakan cek instagram @annisast deh, siapa tau dia buka PO lagi :))
#nutsbook #nutsays
https://www.instagram.com/p/B0T9-0BhE__/?igshid=nmxyihsi4hx0