
Kasir perempuan yang melayani kami semalam memberikan kembalian 2.500 rupiah. Sementara di struk tertulis kembalian seharusnya 2.900 rupiah.
Saya memandang uang kembalian dan bergumam uangnya kurang, tapi dia dan supervisor yg berdiri di sampingnya diam saja.
Sempat kepikir yaudahlah cuma 400 perak aja sih… Toh juga bakal ngasih tips >10x lipat lebih dari itu.
But hey, it’s not about the amount of money, but how they take it from customers is stealing; it’s a corruption. Lain cerita kalau dia tanya saya dulu.
Dan hati saya tidak damai membiarkan kesalahan terjadi begitu saja di depan mata tanpa ada usaha mencegah ataupun menegurnya sama sekali.
Sempat tergoda untuk posting struk dan bukti kembaliannya di social media, dan tag akun restorannya, kan tertulis jelas nama kasirnya.
But it will do more harm than kindness; kasir dan manajer itu mungkin saja dipecat kalau beritanya jadi viral hanya karena kembalian 400 perak, while maybe they have family members to bear.
So I get back to her with wide smile on my face and 200 in my hand, “Mbak, ini saya kasih 100, mbak kembalikan uang saya yg seharusnya, 500”
Mbaknya dengan gugup langsung mengembalikan uang 500 perak yang memang hak saya. Saya pesan agar tidak diulangi lagi karena itu korupsi. Ia mengangguk, tersenyum gugup dan minta maaf.
Point taken, lesson learned, problem solved.
“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
Yakobus 4:17 TB
http://bible.com/306/jas.4.17.tb
#nutsays #nutswords #nutsthoughts #nutslyfe #nuniektirta #biblequote (at Merdeka Walk Medan)