November 20162 min read

Kemarin sore saat belanja bulanan, ada obral buku di salah satu…

Kemarin sore saat belanja bulanan, ada obral buku di salah satu pojokan, dan saya melihat sekilas buku tentang bullying.

Saya tawarkan ke anak pertama kami, karena dia pernah menjadi korban bullying di sekolahnya yang dulu.

Karena memang hobi baca, dia ya sudah pasti mau. Belum sampai ke rumah, bukunya sudah hampir habis dibacanya.

Di mobil dia bilang, “Masa Taylor Swift aja pernah dibully loh.”

Daddynya bilang, “Rata2 semua orang besar pernah dibully.”

Mommy tambahkan, “Daddy pernah dibully. Mommy juga.”

Dia setengah nggak percaya, nanya kenapa mommy daddy dibully.

Kemudian kami jelaskan..

Well, daddy dulu cupu. Dia tanya, cupu itu apa? Some kind of geek and nerd. Ga bisa ngomong sama orang. Awkward.

Jadi waktu sekolah dulu sering dipalakin uang dan ditodong contekan jawaba PR atau ulangan.

Kalo mommy?

Hmm.. mommy pernah difitnah sama guru dan ironisnya itu adalah guru BP alias Bimbingan Pendidikan yg harusnya mengayomi siswanya.

Guru itu berasumsi sendiri TANPA PERNAH KONFIRMASI dan parahnya asumsinya itu disampaikan ke orangtua dan disebar ke guru2 lain bahkan ke murid2 lain.

Akibatnya ya mommy jadi dibully satu sekolahan karena mereka meyakini asumsi guru itu adalah sebuah kebenaran. Dan itu terjadi di usia kritis pencarian jati diri.

But guess what?

There’s a saying “A successful man is one who can build a firm foundation with the bricks others have thrown to him.”

So, every rock they throw, use it as stepping stone. Be so awesome they won’t ignore you, be so fabulous they’ll regret to have been mistreated you!

14 Nov 2016, @nuniek

📸 by @nataliardianto after @indonesiatatler Ball 2016 last Friday

#nutsays #nutstyle #nutslyfe #nuniektirta #lifestyle #ootd #tbt #fashion #style #IDTatlerBall2016