
Suami baru saja pulang lewat dari jam 1 dinihari tadi, setelah meeting pra-raker seharian dengan para manager. Sampai rumah masih sumringah disambut peluk cium istrinya :))
Malam sebelumnya suami juga lembur sehingga saya menunggu sampai jam 10 malam di Mc Cafe, setelah terdampar 4 jam akibat macet parah setelah hujan badai di Pasaraya dan naik TransJakarta ke Sarinah.
Sepanjang perjalanan pulang kami berdiskusi menarik tentang stress management. Saya tahu betul bagaimana pressure seorang CTO di perusahaan berbasis teknologi. Tapi hebatnya, suami nggak pernah bawa2 masalah jadi stress apalagi sampai ke rumah.
Suami bilang, ya seperti kita belajar matematika saja, waktu kecil kita menghafal perkalian 1-10 saja susahnya setengah mati. Setelah menghafal berulang2, jadi nggak susah lagi. Semua sudah hafal di luar kepala.
Atau seperti nyetir mobil. Waktu pertama kali belajar, nervousnya setengah mati. Takut nabrak, takut nyerempet. Tapi kalo udah bisa dan biasa, nyetir nggak pakai mikir lagi, kayak otomatis aja tau2 sampai di tujuan.
Begitu juga dengan masalah di pekerjaan. Semakin sering dihadapi, semakin terasah skill dalam memecahkan masalah. Jadi buat apa takut atau dihindari, ada masalah itu ya dihadapi, kalo bisa malah dengan hepi. Seperti kata Hadi Wenas, teman2 di McKenzie matanya ijo kalo liat masalah :))
Lalu di seperempat terakhir perjalanan, kami juga membahas banyaknya perubahan di 3 tahun terakhir ini dalam hal kedewasaan, kepribadian, pemulihan diri, dan hubungan kami sebagai pasangan.
Thanks to the drama that once had happened in our lives, that became a blessing in disguise. See, there’s always a room for growth everytime we have a problem. So, face it, embrace it, conquer it. You can do it!
#thoughts #problem #couple #relationship #husbandandwife #hubbywifey #love #nutslyfe (at Adimulia Hotel - Medan)