
Saat menyiram tanaman di balkon rumah pagi ini, saya memperhatikan sesuatu. Hal yang sangat simpel namun kalau dipikirkan ternyata filosofis.
Pohon kangkung yang saya dapat bibitnya dari kakak saya, ditanam pada 2 wadah berbeda. Di wadah pertama, pohon kangkung tumbuh kurus ceking karena berdesakan dalam satu pot. Saya sebut mereka si kangkung ceking. Di wadah kedua, pohon kangkung tumbuh tinggi besar menjulang karena mendapat tempat yang cukup untuk bertumbuh. Saya namakan dia si kangkung jangkung.
Begitupun dengan pohon cabe yang saya adopsi sejak masih imut2 dari rumah mertua. Lama sekali saya menanti mereka berbuah, tapi hingga kini masih saja berjuang dengan pertumbuhannya. Sedangkan di tempat asalnya, teman-teman sebayanya sudah tumbuh sempurna dan tak lama lagi kelihatannya akan menghasilkan buah. Perbedaan paling mendasar adalah karena saya menempatkan mereka di pot yg terlalu kecil.
Satu lagi, si lidah buaya. Ia saya boyong dari rumah mertua saat masih gemuk segar. Karena repot bawa pot besar, saya pindahkan ia ke pot yg lebih kecil. Tapi sampai sekarang saya belum memindahkannya lagi ke pot yg lebih besar. Hasilnya, dalam beberapa hari saja terlihat si gemuk segar itu mengkerut jadi kurus layu. Nggak mati sih, tapi kuyu.
Kesimpulannya: pohon saja butuh ruang yang cukup untuk tumbuh optimal. Apalagi manusia. Bukan sekedar ruang dalam arti fisik ruangan (room), tapi ruang (space) untuk berpikir, berkreasi, eksplorasi, eksperimentasi, sosialisasi, hingga ruang untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan itu =)
Sudahkah kita memberikan cukup ruang bagi diri sendiri, dan orang-orang yang kita cintai?
Nuniek Tirta
23 Oct 2014